Mengintip Budaya Bau Nyale di Pulau Lombok

MATARAM, ALFIKR.CO – Pulau Nusa Tenggara Barat adalah salah satu gugusan pulau yang memiliki kekayaan budaya. Salah satunya yaitu budaya “Bau Nyale” (menangkap cacing laut). Budaya ini biasa dilaksanakan masyarakat suku Sasak di pulau Lombok. Tepatnya, di pesisir pantai Kaliantah, Lombok Tengah (Lonteng), NTB.

Bau Nyale merupakan upacara adat yang cukup tua dalam sejarah suku Sasak. Lahirnya Nyale seiring pula dengan upacara-upacara adat lainnya, seperti: marari, peresean, dan keragaman adat lain yang tumbuh di bumi Sasak. Dari semua jenis ritus-ritus yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Sasak, Nyale-lah yang rupanya memilki keunikan atas kesakralan uapacaranya.

Nyale adalah sebuah jenis cacing Wawo dan Palolo yang di parcayai masyarakat suku Sasak sebagai penjelmaan dewi Mandalika, seorang putri dari salah satu kerajaan kecil yang dulu pernah tumbuh dan berkembang di pulau Lombok.  Konon, putri cantik itu memiliki paras yang selaras dengan dengan namanya, yakni puteri Mayangsari. Kecantikannya mengundang decak kagum bagi oang yang melihatnya tak terkecuali masyarakat biasa. “Mereka kagum akan kecantikan sang putri sekaligus ingin memilikinya,” ungkap Pak Jokro, salah seorang tokoh masyarakat di kecamatan Pujut, Lombok Selatan pada Alfikr.

Pada akhirnya sang putri harus menentukan pilihan pada yang serba dilimatis diantara dua orang pengeran yang sama-sama ingin memilikinya yakni, Raden Lipurno dan Bruno, yang tidak lain adalah sepupunya sendiri. Kegilaan menyebabkan keduanya tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya, persis pada taggal 20 dan bulan 10 tahun Sasak, tanpa sepengetahuan sang baginda raja, lalu ia pergi ke tengah laut. Tanpa dugaan apa pun, ternyata ia memutuskan untuk bunuh diri. Ia menenggelamkan diri ke laut selatan Pulau Lombok, seraya berkata: “kalian akan menemuiku dalam wujud yang berbeda, sehingga menikmati tubuhku bersama-sama”. Itulah akhir kata Sang dewi alias putri Mandalika sebelum menenggelamkan diri.

Pada saat sang putri hanyut oleh gulungan ombak lautan selatan, rakyatanya hanya bisa menunggu di tepi laut, berharap putri bisa kembali. Mereka menunggu dengan hati gundah gulana dan penasaran akan pernyataan sang putri.

Sebagai rakyat yang setia, mereka tetap saja meunggu kadatangan sang putri hingga menjelang pagi. Kemudia datanglah sesuatu yang aneh. Di kejauhan tengah laut, muncul bintik-bintik api yang menaburkan cahaya, menyala. Seiring dengan menyisingnya fajar, bintik-bintik tersebut terlihat berjalan menepi dan rakyatnya serentak berteriak: “Puteri saya nyala....nyala...”. Ternyata sesuatu yang nyala itu adalah cacing laut yang berkerumun, bergulung-gulung membentuk semacam bola api. Cacing itu dianggap sebagai penjelmaan rambut puteri alias puteri Mandalika yang kala hidupnya indah berurai dan merumbai.

 “Karena penjajah Belanda dulu tidak bisa berkata: nyala, melainkan “Nyale”, kemudian masyarakat Sasak dengan logat Jawa Kawi pun ikut menyebutnya “Nyale”,” tambah Pak Tjokro.

Kemudian masyarakat menangkapnya dan memasaknya dengan cara dibungkus daun pisang. Walhasil, ternyata rasanya enak dan lezat. Sebagaimana mereka mengenang keindahan kecantikan putri Mandalika. Ajaibnya, cacing Nyale tidak muncul selain waktu itu dan di tempat selain sepanjang pantai selatan , tempat menceburnya sang putri kesanyangan.

Menurut Lalu Mahir, seorang Budayawan, upacara Bau Nyale erat sekali hubungannya dengan kepercayaan masyarakat suku Sasak secara lebih luas yaitu, keluarnya Nyle dijadikan sebagai tolok ukur atau `petanda` terhadap keberhasilan pertanian. “Kalau Nyale banyak yang tertangkap, maka itu menjadi alamat keberuntungan bagi para petani,” tutur Lalu Mahir. Malahan, setiap orang yang baru pulang dari upacara Bau Nyale mesti akan menaruh lipid (daun pisang yang dipakai untuk bungkus masak Nyale) di sawahnya. Hal ini dimaksudkan melindungi tanaman dari serangan hama.

Up Next

Berita Lainnya

Facebook about this post