Wartawan Mahasiswa UIN Bandung di Intimidasi Aparat Polisi

BANDUNG, ALFIKR.CO- Muhammad Iqbal, wartawan LPM Suaka, UIN Bandung mengalami kekerasan dari aparat polisi saat sedang meliput aksi demonstrasi penggusuran tanah Taman Sari di Balai Kota Bandung, Kamis (12/04/18).

Dalam aksi tersebut terjadi kericuhan antara massa aksi dengan pihak polisi. Sekitar pukul 13.25 WIB massa aksi dengan aparat yang menjaga gerbang Balai Kota saling pukul. 8 menit kemudian, Dimas dan Ehang anggota aksi diseret dan dipukul oleh pihak polisi.

Eva salah satu massa aksi lain yang melihat kejadian itu mencoba melindungi Dimas dan Ehang. Namun, Eva juga kenak pukul. Melihat kekerasan terhadap 3 orang itu, Muhammad Iqbal, Wartawan LPM Suaka UIN Bandung hendak mengambil gambar.

Tetapi Ikbal malah didorong dan diusir dari depan gerbang. “Siapa lo? Keluar sana!" kata salah seorang polisi dengan penuh amarah. Meski mendapat perlakuan buruk, Iqbal tetap bertahan sambil menunjukkan kartu persnya. "Saya sudah bilang dari pers, tapi tidak digubris dan diusir," ucap Iqbal.

Karena posisinya sulit untuk mengambil gambar, akhirnya  Iqbal memilih keluar dari gerbang Balai Kota Bandung. Ia lalu mencari jalan lain agar bisa ke mobil Dalmas agar bisa mendokumentasikan perlakuan aparat kepada Dimas dan Ehang.

Iqbal lalu mendekat dan memotret mobil Dalmas yang di dalamnya terdapat Ehang dan Dimas. Menurut keterangan Dimas, sebelum masuk ke mobil Dalmas, ia sempat dipukul dan ditendang.

"Saya lalu memotret dari jauh. Hampir delapan jepretan. Setelah itu seorang polisi melihat saya. Polisi itu menarik dan meminta identitas saya," ucap Ikbal sambil menyebut menunjukkan kartu pers kepada polisi itu. 

Setelah kartu pers ditunjukkan, Iqbal malah ditarik ke dekat mobil Dalmas. Ia diinterogasi oleh beberapa polisi dan memaksa mengambil kamera milik Iqbal.

Iqbal menolak untuk memberikan kamera dan mengaku jika gambar yang diambilnya merupakan hak pers untuk mengetahui apa yang terjadi. Karena Iqbal dianggap tak kooperatif, Ia lalu dimasukan ke dalam mobil Dalmas.

"Saya terus ditekan dan memaksa foto yang saya ambil untuk dihapus. Polisi lalu menggeledah tas saya. Polisi yang menyebut dirinya intel bilang bahwa saya sudah melanggar etik," ujarnya.

Seorang anggota intel lainnya juga memaksa poto untuk dihapus. Intel itu menyebut penghapusan foto demi kebaikan Iqbal. "Saya lalu menagih kartu pers yang dibawa salah seorang polisi. Tapi polisi itu memberi syarat, kartu pers balik tapi foto dihalus," ujarnya.

Iqbal menolak untuk menghapus foto. Namun karena terus ditekan, foto yang Iqbal ambil terpaksa dihapus. Saat foto dihapus pun, polisi terus memperhatikan foto-foto yang ada di kamera.

Up Next

Berita Lainnya

Facebook about this post