Pulau Berkah Itu, Bernama Gili Iyang

Gili Iyang kala itu masih tidak berpenghuni, pulau misterius dan angker tersebut menjadi tempat persinggahan para saudagar pada abad ke-14. Sosok Andang Taruna menyulapnya menjadi pulau berkah nan indah.

SUMENEP, ALFIKR.CO - Pelabuhan Dungkek Sumenep Madura, kala itu mulai ramai lalu-lalang penumpang Sampan. Terpaksa kami harus menunggu jadwal keberangkatan, sembari menyeruput kopi di salah satu warung pinggir pantai. Maklum, suhu pagi itu dingin, ditambah hembusan angin laut musim kemarau yang panjang.

Setelah matahari mulai meninggi, tepatnya pukul 09.00 WIB, kami berangkat menuju pulau Gili Iyang. Bismillah; menjadi modal utama kami selama perjalanan. Meski jarak Pelabuhan Dungkek ke Pulau Gili Iyang bisa ditempuh setengah jam saja, namun gelombang di sana tidak begitu bersahabat. Perahu yang kami tumpangi mulai oleng diterjang angin sakal. Beruntung kami selamat sampai tujuan.

Tiba di bibir pulau, lelahpun terobati saat mata kami dimanjakan oleh hamparan pasir putih di sepanjang pantai yang bersih. Ekosistem bawah laut dengan terumbu karang sebagai tempat berkumpul para ikan-ikan kecil, pepohonan lebat berbaris rapi disekitar pesisir pantai menjadi pembatas antara laut dan darat.

Secara Administratif Pulau Giliyang berada di wilayah Kecamatan Dungkek Sumenep. Pulau yang posisinya tegak lurus dengan garis katulistiwa. Secara Geografis terletak di koordinat 060 59’ 9” LS dan 1140 10’ 29” BT dengan luas 921.2 Ha.

Pulau Giliyang terdiri dari dua Desa yaitu Bancamara dan  Banra’as, dengan jumlah penduduk 9.185 jiwa dan 3.867 KK. Desa Bancamara terdiri dari tujuh Dusun, (Bancamara Barat, Bancamara Timur, Lembena, Baniting Selatan, Baniting Utara, Peape dan Melengan). Sedangkan Desa Banra’as dibagi menjadi enam Dusun, (Ra’as, Ra’as Timur, Bungkok, Kalompag, Baru, dan Asem).

Terlahir dari Rahim sejarah pastinya tidak lepas dengan mistik yang menyimpan sejuta teka-teki. Pulau yang membentang luas sekitar sembilan kilometer persegi dengan posisi tegak lurus dengan katulistiwa tersebut, memiliki kekayaan sejarah yang sangat luar biasa.

Ada dua versi asal usul penamaan pulau ini. Pertama gili Iyang berasal dari kata ghile dan Iyang. Ghile Secara harfiyah berarti tidak waras. Sedangkan kata Iyang diartikan nenek moyang atau buyut. Konon pulau ini menjadi tempat pembuangan orang terpenjara yang gila pada masa ke-3 kerajaan Sumenep kepemimpinan Raja Ario Danurwendo.

Kedua, Gili Iyang berasal dari kata Elang yang artinya hilang. Pitutur masyarakat sekitar menyakini saat Belanda datang ke pulau, langit nampak gelap dan kapal-kapal belanda berputar kehilangan arah lalu menjauh dari pulau.

Mayoritas warga Gili Iyang adalah suku Mandar dan Bugis, tak heran jika mata pencaharian mereka sebagai pelaut. Kedua suku tersebut meyakini pulau Gili Iyang sebagai pulau Sutawil.

Sutawil sendiri bermakna keramat atau berkah. Bahkan dari kepercayaan tersebut, jika orang mandar makan tiga suapan, maka diantaranya diberikan ke tanah Gili Iyang.

Khaidar, salah satu sejarawan Gili Iyang menjelaskan, Andang Taruna atau yang lebih dikenal oleh Masyarakat Gili Iyang sebagai Jhu’ Tarona adalah pembabat pertama sebelum pulau ini berpenghuni. Beliau berasal dari Pulau Binongko, Sulawesi Tenggara.

“Kedatangan beliau ke pulau Gili Iyang bermaksud mencari pulau yang belum dihuni manusia. Konon katanya, Jhu’ Tarona menyebut pulau ini sebagai kawasan keramat dan berkah, persis seperti yang dikatakan suku Mandar saat itu,” Jelasnya kepada ALFIKR.

Menurut keyakinan masyarakat sekitar, Jhu’ Tarona datang ke Gili Iyang bersama istrinya, Mendiang. Selang beberapa waktu kemudian, adiknya Jejhep Prana menyusul dengan saudara dan para pengikutnya dari pulau Binongko untuk bemukim sekaligus membantu membabat pulau. Pembabatan pulau di Gili Iyang tidak selesai. Hal tersebut dikarenakan tiga tahun setelah proses pembabatan berjalan, Jhu’ Tarona meninggal dunia.

Makam Andang Taruna berada di tengah pulau, antara desa Banraas dan Bancamara. Karena letaknya di tengah pemukiman warga tersebut, maka makam Andang taruna lebih dikenal dengan sebutan Jhu’ Bhucel.

Ahya’, salah satu tokoh masyarakat menjelaskan bahwa yang di kuburkan itu bukan jasad beliau, melainkan pusaka-pusakanya. “Ketika wafat jasadnya sudah hilang. Maka tidak ada satu pun peninggalan-peninggalan beliau terlihat di pulau ini,”ungkapnya saat ditemui di rumahnya.

Kiprah Jhu’ Taruna sendiri tidak banyak diketahui. Namun masyarakat Gili Iyang percaya bahwa beliau adalah tokoh pertama yang membabat Pulau Gili Iyang.

(Sumber Foto: Heri Yadi)

Up Next

Berita Lainnya

Facebook about this post