Masa Orde Baru, Anita Hayatunnufus Wahid; Gus Dur Sosok Pemberani

PROBOLINGGO, ALFIKR.CO-Putri ketiga mendiang mantan Presiden Republik Indonesia keempat KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Anita Hayatunnufus wahid mengatakan, ayahanda merupakan sosok yang luar biasa keberaniannya. Dimana banyaknya ancaman dan tekanan, beliau senantiasa gigih memperjuangkan hak-hak rakyat di masa orde baru.

Pandangan itu, beliau ungkapkan dalam kegiatan refleksi kebangsaan satu dekade kepulangan Gus Dur yang diselenggarakan Gusdurian Probolinggo. Bertempat di halaman Gereja Katolik Maria Bunda Karmel Kota Probolinggo, pada Sabtu malam (18/01/2020).

“Jadi luar biasa besar keberaniannya Gus Dur, karena saya menyaksikan langsung. Bagaimana tidak, dibawa tekanan dan ancaman, Gus Dur senantiasa memperjuangakan hak-hak rakyat di masa orde baru,” kenangnya.

Walaupun banyak yang dipertaruhkan, tidak hanya nyawa Gus Dur. Tapi nyawa keluarganya pun, turut beliau pertaruhkan, dan juga orang-orang yang selama ini ia pimpin untuk bergerak  melawan tirani oligarki dimasa itu.

Banyaknya tekanan dan ancaman dari pemerintahan orde baru, cerita Anita, Gus Gur suatu saat pernah mengumpulkan keluarga, dan menghimbau untuk bersiap-siap pergi ke negara Australia. Bila keadaan mendesak, dan memang diperlukan keluarga untuk keluar negeri bersamanya.

"Itu adalah masa dimana beliau menerima banyak sekali tekanan dari pemerintah. Luar biasa besar tekanannya sampai beliau merasa bahwa nyawanya terancam dan keluarga, sehingga membuka opsi untuk keluar negeri," jelasnya.

Meskipun kian banyak ancaman, dan tekanan, Gus Dur tetap saja berani dan gigih untuk membela hak-hak rakyat. Menurut Anita, ancaman dan tekanan kepada Gus Dur salah satunya melalui via telefon.

"Hampir setiap sore saya menerima telepon jika saya angkat. Terdengar sauara laki-laki sangat keras, heh ! Bilang sama bapakmu tutup mulutnya. Kalau dia tidak tutup mulut, kamu yang saya akan kirim kado kotak besar, isinya kepalanya bapakmu. Di hari berikutnya, kadonya, isinya lidah bapakmu, dan anggota tubuh yang lainya,” terangnya.

Tapi kejadian itu, tidak membuat saya dan Inayah Wahid (adiknya) yang selalu mengangkat telepon bernuansa ancaman kepada Gus Dur merasa takut. Malahan, saya sama Inayah bersepakat, untuk jadikan bahan bercanda jika ada yang menelpon lagi.

“Kita jadikan bahan bercanda saja. Jadi kalau mereka telepon lagi, kita bercandain lagi. Ah, masa si, mendingan kami kirimin kamu saja kado, begitu bercandanya,” katanya.

Anita melanjutkan, kegigihan Gus Dur memperjuangkan hak-hak rakyat untuk menegakkan nilai-nilai dalam sistem demokrasi yang seharusnya melindungi semua orang.  Dimana rakyat adalah pemegang kekuatan terbesar dalam sistem demokrasi. Bukan malas sebaliknya yang dilakukan masa pemerintahan orde baru.

"Yang beliau perjuangkan adalah penegakkan demokrasi. Dimana supremasi hukum itu adalah salah satu hal yang paling tinggi, dan kekuatan terbesar  berada pada tangan rakyat," pungkas anak ketiga mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut.

 

Up Next

Berita Lainnya

Facebook about this post