Begini Sosok Gus Dur Menurut Muhammad Al-Fayyadl

PROBOLINGGO, ALFIKR.CO- Penulis buku Filsafat Negasi, Muhammad Al-Fayyadl, hadir sebagai pemantik dalam acara refleksi kebangsan dalam rangka memperingati satu dekade kepulangan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pada Sabtu (18/01/2020).

"Sebenarnya saya hadir disini gara-gara mbak Anita Wahid, karena saya sebagai santri pondoknya Gus Dur. Saya menuntut ilmu selama satu tahun di pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan. Jadi kalau ada kiainya pasti harus hadir,” ceritanya.

Acara yang dikemas oleh komunitas Gusdurian Probolinggo, bertempat di halaman Gereja Katolik Marya Bunda Karmel itu. Menurut Muhammad Al-Fayyadl, baru pertama kali menghadiri acara yang bertempat di halaman Gereja Katolik Marya Bunda Karmel Probolinggo.

“Kenapa tidak sekalian saja di dalam Gerejanya, mungkin panitianya masih sungkan. Karena acara yang bertempat di Gereja merupakan hal yang unik bagi masyarakat Probolinggo, ” candanya kepada salah satu panitia saat mengantar surat undangan menjadi pemantik.

Tidak menjadi masalah juga bila acara tersebut di Gereja. Asalkan niat mengadakan acara tetap dalam ranah mengenang sosok almahrum KH. Abdurrahman wahid (Gus Dur). Karena dari sosok beliaulah kita dapat banyak belajar sikap moderat.

Ia melanjutkan, dalam perspektif umat Islam, ada perdebatan ketika menyaksikan fenomena orang Islam masuk ke tempat ibadah agama lain. Hal ini menurutnya, menimbulkan banyak polemik yang luar biasa dialami masyarakat Indonesia atas keberagaman agama kita.

“Karena ada ulama yang mengkhawatirkan akan hilangnya identitas keimanan itu sendiri. Tapi ada juga yang mengatakan perbuatan ini bentuk muamalah saja dalam artian hubungan sosial. Fenoemana ini, memiliki banyak polemik, bahkan sampai ke ranah konflik lintas agama,” jelasnya.

Menurut intelektual muda Nahdaltul Ulama (NU) ini, persoalan-persolan tersebut bersumber dari kesulitan untuk memisahkan ranah ibadah dengan ranah muamalah. Ranah ibadah adalah ranah hubungan kita dengan Allah. Sementara, ranah muamalah adalah ranah antar manusia satu dengan lainya dalam hubungan sosial.

“Orang muslim ada di gereja juga sebenarnya tidak masalah, sejauh dalam ranah muamalah. Sikap inilah yang disebutkan dalam Alquran sebagai hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia),” jelasnnya.

Ia menambahkan, “kalau ada seseorang yang mengatakan berada di dalam gereja adalah bentuk sesuatu yang ekstrim, bagi kami yang dari kalangan pesantren. Mengadakan haul di pesantren-pesantren itu sudah biasa. Apa lagi dalam agama Islam mengajarkan tawassut (mengambil titik tengah dari perbedaan). Maka tidak menjadi masalah mengadakan haul Gus Dur di Gereja.

Sebagaimana Gus Dur, berusaha untuk mendamaikan dua pendapat yang bertentangan, antara pendapat pro dan kontra. Muammad Al-Fayyadl melanjutkan, sikap toleransi ala Gus Dur adalah sikap yang tidak membedakan agama satu dengan yang lain.

Di lain sisi, Ia juga mengatakan dua hal jika ingin menjadi layaknya Gus Dur. “Belajarlah yang luas, bergaullah dengan luas, janganlah memilah-memilih seseorang selama mereka masih berwajah manusia,” pungkasnya.

Up Next

Berita Lainnya

Facebook about this post