Muhammad Al-Fayyadl; Kondisi Bangsa Terpuruk

PROBOLINGGO, ALFIKR.CO-Cendikiawan muda Nahdlatul Ulama (NU), Muhammad Al-Fayyadl mengatakan, pentingnya refleksi kebangsaan di tengah kondisi bangsa yang saat ini, benar-benar sedang terpuruk. Dimana hubungan agama dan negara menjadi sangat dekat, bahkan terkadang tumpang tindi.

“Kondisi bangsa yang sedang terpuruk karena agama dan negara hari ini menjadi sangat dekat, bahkan terkadang tumpang tindih,” ucapnya ketika menjadi pemantik kegiatan Refleksi Kebangsan dalam rangka memperingati satu dekade kepulangan KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, pada Sabtu (18/01/2020).

Ia memaparkan, salah satu gagasan kebangsaan Gus Dur dalam menyikapi problem tersebut dengan memisahkan antara agama dan negara. Karena Indonesia bukan negara agama tertentu. Melainkan negara yang beragama, dan tidak boleh menjadi negara agama.

Gus Dur memiliki pemahaman bahwa Indonesia bukan Darul Islam sebagai arti satu-satunya agama yang ada. Tetapi, beliau kembali memaknai agama Islam, sebagai Deen Salam (agama kedamaian) untuk kehidupan berbangsa dan bernegara dalam memandang kehidupan kebergamanan agama di Indonesia. Kemudian,“Gus Dur memaknai Indonesia itu, sebagai Darus Salam (negeri kedamaian),” papar penulis buku Filsafat Negasi itu.

Dalam konsep Darus Salam, tugas utamanya bukan lagi memperjuangkan Islam sebagai identitas yang ekslusif. Melaikan, menegakkan misi keislaman dalam bentuk tujuan agama yakni perdamaian.

Beliau melanjutkan, Gus Dur seorang penyebar perdamaian dengan mengambil nilai-nilai dalam agama Islam, dan apa yang dilakukan Walisongo. “Jika dulu Walisongo menyebarkan Islam, Gus Dur menyebarkan salam (kedamaian),” tutur lulusan magister Universitas de Paris VII itu.

Up Next

Berita Lainnya

Facebook about this post