Bagaimana Pesantren Menyikapi Perubahan Iklim ?

PROBOLINGGO, ALFIKR.CO-Dari hasil riset Intergovernmental Panel on Climate Change’s (IPCC) fifth assessment report, menunjukan pelbagai kontribusi manusia modern terhadap perubahan iklim (climate change) yang terjadi di dunia. Riset itu dilakukan mulai dari 1950, sekitar 100% faktor emisi dan aktivitas manusia menyebabkan terjadinya perubahan iklim (climate change).

“Perubahan Iklim adalah perubahan signifikan kepada iklim, suhu udara, dan curah hujan mulai dari dasawarsa sampai jutaan tahun. Perubahan iklim terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida, dan gas-gas lainnya di atmosfer yang menyebabkan efek gas rumah kaca,” di lansir dari http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/.

Manajer Kampanye Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur, Wahyu Eka Setyawan, menjelaskan, perubahan iklim disebabkan oleh rusaknya ekosistem, dan hutan tropis yang berfungsi sebagai filter karbon hangus.

Ia menyambungkan, perubahan iklim tanpa disadari juga mempengaruhi cuaca, seperti panas yang lebih panjang dari hujan. “Hal itu dapat merugikan petani, dimana banyak pertanian yang gagal panen karena fluktuatifnya cuaca,” katanya.

Ironisnya, kondisi tersebut masih belum merangsang Pemerintah Daerah, khususnya Jawa Timur untuk memikirkan perubahan iklim yang terjadi. Hal itu, menurutnya, dapat dilihat dari semakin digelarnya karpet merah untuk investasi.

“Sekalipun ada itu hanya gimik, tidak sistemik dan berkesinambungan. Di otak mereka hanya investasi saja, tidak ada yang memikirkan keberlanjutan lingkungan hidup berbasis pada generasi akan datang,” tuturnya ketika dihubungi Alfikr.co via WhatsApp.

Apa lagi, “bila kita menanam pohon, tapi hutan dialih fungsikan. Kita menjaga wilayah resapan, tapi banyak lahan resapan dialih fungsikan. Kita membuang sampah hingga memilahnya, tapi produsen masih dibiarkan produksi terus. Artinya gerakan climate change, bukan individualistis dan apolitis,” tandasnya.

Lanjut Pria yang aktif juga di Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) mengingatkan, sangat sulit mengatasi perubahan iklim yang terjadi ini, jika dilakukan secara pribadi, itu terlampau naif. Maka diperlukan, kita bergerak bersama, belajar, dan mendesak pemegang kekuasaan untuk bersama-sama mencari solusi atas terjadinya perubahan iklim tersebut.

Untuk kalangan pesanteren, pesan Wahyu, mungkin bisa bergerak ke ranah pendidikan dan pengetahuan soal apa itu perubahan iklim.

“Lebih bagus lagi kalau pesantren mengembangkan semacam pengetahuan baru. Misalnya, fiqh climate change atau pengetahuan soal climate change yang dikorelasikan dengan Islam,” jelasnya.

Selain itu, pesantren juga bisa memulai untuk melakukan penataan ruang, menciptakan ruang terbuka hijau, dan meminimalisir penggunaan bahan bakar fosil hingga pendingin ruangan.

Bisa juga mulai memakai energi terbarukan, dan mengadakan solar panel atau kincir angin untuk hidup hemat ramah lingkungan. “Pesantren dan santri bisa melakukan gaya hidup nol pemborosan (zero waste) minimal 3R; mengurangi (reduce), pengunaan kembali (reuse), dan daur ulang (recycle),” pungkasnya.

 

 

Up Next

Berita Lainnya

Facebook about this post