Perda Inisiatif Akankah Jadi Jawaban?

ALFIKR, PROBOLINGGO- Rabu (16/08/2020), Meskipun dalam suasana pandemi, Aksi Penyampaikan  Aspirasi Petani Probolinggo yang didukung mahasiswa berjalan dengan lancar dan damai serta sesuai dengan protokol kesehatan. Aksi tersebut dimulai dengan meluruk beberapa gudang tembakau yang berada di daerah paiton, diantaranya PT. Gudang Garam Tbk-MPGG Paiton, CV. Rejo Hasil dan PT. Sadhana Arifnusa. Serta dilanjutkan di Kantor Bupati dan DPRD Probolinggo.

Banyaknya keluhan dari petani karena masuknya tembakau ke beberapa gudang di Paiton, yang lebih didominasi tembakau dari luar kabupaten ketimbang tembakau asli daerah Probolinggo, tutupnya gudang dan harga murah menjadi salah satu alasan dari diadakannya aksi tersebut.

“Dalam hal ini, pihak Gudang Garam harus bersedia melayani petani dan siap membeli tembakau petani Probolinggo sampai habis dengan harga yang sebanding dengan keringat dan modal petani di Probolinggo,” tegas Zia Ul-haq Korlap Aksi Petani Probolinggo.  

Begitu juga dengan Lukman Hakim, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo ini dengan tegas mengatakan bahwa pihak DPRD akan bersama para petani dan akan memperjuangkan nasib petani Probolinggo.

“Kami DPRD Kabupaten probolinggo kemarin sudah mengadakan hearing dengan petani dan pengusaha tembakau. Dan alhamdulillah gudangnya sudah buka. Masalah Peraturan Daerah (Perda) tentang Perlindungan Petani akan kita tindak lanjuti sebagai Perda Inisiatif,” ujar politisi Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa Kabupaten Probolinggo.

“Baik, kita tunggu saja niat baik dari bapak-bapak di DPRD. Saya harap, kepercayaan petani tidak disalahgunakan pak,” timpal Zia Ul Haq.

Adapun beberapa tuntutan yang dibawa para petani, seperti pihak gudang buka sampai tembakau petani Probolinggo terjual habis dengan harga 35.000,00-45.0000,00. Selain itu, para petani juga menuntut pihak Bupati dan DPRD Kabupaten Probolinggo membuat Perda dan Perbup tentang Perlindungan Petani dan mereka menuntut agar para petani nasibnya diperjuangkan. Karena selama ini mereka (Baca: Petani) merasa hidupnya diabaikan hingga jauh dari kata sejahtera.

Up Next

Berita Lainnya

Facebook about this post