Menjadi Petani yang Santri

PAITON, ALFIKR.CO- Sore itu, diiringi alunan pujian-pujian di Musolla, Achmad Humaidi, salah seorang santri Wilayah Zaid Bin Tsabit (K) PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo menjalankan rutinitasnya, menyirami beberapa jenis tanaman sayur di sepetak pekarangan pondok, Rabu (23/09/20). 

Ia bersama beberapa santri lainnya, memanfaatkan lahan kosong dengan menanami Kangkung, Sawi, Tomat, Terong, Kacang Panjang, juga ikan lele dengan sistem kolam ember. Menurut Humaidi, kebun ini diinisiasi oleh KH Hefni Mahfudz, Pemangku wilayah Zaid Bin Tsabit, beliau ingin, minimal sayur-mayur kebutuhan dapur bisa dipetik dari hasil kebun sendiri. 

Baginya, ini salah satu upaya memberi nilai-nilai edukasi ke santri-santri bahwa kebutuhan kita tidak selamanya harus dengan membeli. Ada kalanya kebutuhan sayur-mayur bisa menanam dan memetik sendiri. Selain itu, pemanfaatan lahan kosong ini juga diajarkan dalam Islam. 

“Siapa tau santri menyadari bahwa kita semestinya bisa berdaulat pangan. Alhamdulillah hari ini kita panen kangkung dan sawi, setidaknya dari panen ini uang belanja kebutuhan dapur bisa sedikit berhemat, apalagi sekarang pandemi begini,”jelas Pria yang kerap disapa Humed. 

Di samping itu, kebun yang dikelola oleh Humaidi dan kawan-kawan menerapkan sistem organik, hal ini tidak terlepas dari upaya edukasi. “Kita menggunakan sistem organik. Karena sampah-sampah dapur eman kalau tidak dimanfaatkan, seperti, air cucian beras, nasi sisa, kulit-kulit bawang atau telur. Ya kita di sini masih terus belajar,” ujarnya

Menurutnya, santri mestinya melek soal-soal petanian dan ekologi. Hal itu, ia melanjutkan, adalah salah satu bentuk rasa syukur, seperti, merawat lingkungan atau menanam merupakan salah satu usaha berterimakasih kepada Allah.

“Harapannya, kebun ini terus berkelanjutan, karena bagaimanapun, kalau kata kiai itu, tidak semuanya harus menjadi ustad atau guru, melainkan juga harus ada yang berkecimpung di dunia petani, kan Petani Pahlawan Negeri, kata Kiai Hasyim Asy’ari,” harapnya.

Petani Pendakwah

Terpisah, KH Hefni Mahfudz, mengutarakan bahwa keinginan beliau membuat kebun tidak lain adalah upaya memenuhi kebutuhan dapur. Selai itu, di tengah ancaman krisis pangan, kebun-kebun pribadi cukup membantu. 

Selain itu, beliau juga melihat adanya lahan-lahan yang menganggur, “siapa tahu ada santri yang sebenarnya memiliki ketertarikan di dunia menanam, sambil mengasah dan belajar bakatnya temtang pertanian,” dawuhnya.

Beliau menambahkan, bahwa kewajiban seorang santri tetap harus bermanfaat di masyarakat, dan setiap santri sudah ditentukan nasibnya. Ada yang menjadi guru, nelayan, dan juga petani. 

“Tetapi, bukan sekedar menjadi petani, namun sambil berdakwah. Dakwah bukan harus jadi kiai atau ustadz, petanipun boleh berdakwah. Menyebarkan kebaikan di masyarakat, termasuk ke sesama petani. Seperti mengingatkan sholat,” harapnya.

Up Next

Berita Lainnya

Facebook about this post