Refleksi Hari Tani di Tengah Wabah Covid-19

ALFIKR.CO, PAITON- Hari Tani Nasional yang jatuh pada tanggal 24 September 2020, merupakan mementum penting untuk merefleksikan kondisi pertanian Indonesia di tengah wabah Covid-19. Menurut Ketua Asosiasi Petani Kabupaten Probolinggo (Aspekpro), Muzakir, adanya wabah Covid-19 yang melanda masyarakat Indonesia, sangat berdampak kepada ajloknya harga komoditas pertanian.

Misalnya, mulai pada bulan Mei 2020, di daerah Jawa Timur,  Nilai Tukar Petani (NTP) turun 0,42 persen dari 99,43 menjadi 99,01. Sementara subsektor yang mengalami penurunan NTP terbesar, terjadi pada subsektor Hortikultura sebesar 2,44 persen dari 100,41 menjadi 97,96.

Sementara pada subsektor Tanaman Pangan yang terdiri dari Cabai Rawit, Telur Ayam Ras, Jagung, Cabai Merah, Buncis, Tomat, Jeruk, Kopi, Sapi Perah, dan Kacang Panjang. Turun juga sebesar 0,20 persen dari 100,48 menjadi 100,28.

Menurut Muzakir, ada beberapa solusi yang dapat dijadikan acuan dalam menangani anjloknya NTP ini. Bisa mulai dari pengoptimalan pasar lelang, pasar murah, pasar-pasar lokal, dan membuat Peraturan Daerah Perlindungan Pertanian (Perda Perlintan).

Khusus pembuatan "Perda Perlintan, dimaksudkan untuk melindungi nilai jual komoditas pertanian yang anjlok, dengan cara pemerintah menalangi anggaran sehingga harga kembali stabil. Akan tetapi dibeberapa daerah Perda Perlintan ini belum ada,” ucapnya saat diwawancarai ALFIKR.CO via telepon.

Muzakir berpesan, dengan diperingatinya hari besar petani setiap tahunnya ini, menjadi salah satu upaya untuk mengevaluasi pelbagai hal di sektor pertanian, “Sehingga nasib para petani tidak seperti dulu lagi. Dalam hal ini, peran organisasi bahkan tokoh-tokoh masyarakat sangat dibutuhkan, guna melakukan pengawalan kebijakan pertanian atau sekedar memberikan support/dorongan moral,” pungkasnya. 

Up Next

Berita Lainnya

Facebook about this post