Bertani Itu Sejahtera dan Merawat Tradisi

ALFIKR.CO, PAITON- Bermodal ladang satu hektar setengah, Salam (57), telah melahirkan 1 orang sarjana dari hasil bertani cabai merah dan tomat. “Selama ini, seluruh anak saya sekolahnya, dari cabai merah sama tomat. Dari semua itu, anak saya bisa melanjutkan sekolahnya. Alhamdulillah, sekarang sudah satus orang lulus sarjana dan adiknya masih mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA),” ucap bapak dua anak ini.

Ketika ALFIKR temui di ladangnya, ia bercerita bahwa saat ini petani masih menjadi profesi yang menjanjikan. Walaupun harga tomat, dan cabai merah saat ini sedang anjlok, tidak seperti tahun sebelumnya (2019), baginya, petani tetap untung.

“Di tahun 2019 saya tanam 500 pohon tomat, per-dua hari bisa dapet 300.000, sedangkan saat ini cuma 1500/kg. Harga segitu petani masih tetap untung,”ujarnya.


Ia mengatakan bahwa, tanaman tomat miliknya sudah mengalami sebanyak 6 kali petik atau panen. “Terakhir saya panen dua hari lalu, itu bisa menghasilkan 4 kuintal. Sebelumnya cuma 3 kuintal. Langsung saya kirim ke Gresik,” akunya.

Sejalan dengan Salam, Abdul Haq (38) juga mengakui bahwa dirinya menghidupi keluarga dari hasil bertani cabai merah besar. Baginya, meski biaya produksi tinggi, ia merasa tidak rugi.

“Cabai merah itu, jika tumbuh sehat, insyaallah petani tidak rugi. Kalau harga pohon, misal 5000/kg, dan dalam satu pohon mampu menghasilkan satu kilo. Sekitar 70 buah. Bahkan di tahun kemarin saya alhamdulillah bisa tembus 2kg satu pohon,” ujarnya.

Di masa tanam tahun ini, harga cabai merah besar mengalami penurunan cukup drastis. Berbeda dengan tahun 2019, yang bisa tembus 40.000-50.000/kg, sedangkan saat ini hanya berkisar 14.000/kg. “Petani bakal rugi jika harga jual di bawah 5000. Kalau harga sudah di bawah 5000, baru petani merugi. Hal itu, pernah terjadi pada tahun 2015 sekitar 2500/kg,” katanya.

Sementara harga cabai merah besar biasa, dalam data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Pokok (Siskaperbapo) di Jawa Timur, menyebutkan pada tanggal 23 September 2020 untuk daerah Kabupaten Probolinggo sekitar 28.000.


Selama ini sektor pertanian cenderung dipandang sebelah mata. Padahal, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) pada kwartal II (Q2) 2020 minus 5,32%.

Dari data tersebut, menyebutkan, sektor pertanian tumbuh positif yaitu 16%, ketika sektor lain justru jatuh ke arah minus.

Salam (57) mengatakan bahwa bertani bukan sekedar urusan untung-rugi. Melainkan merawat tradisi. “Moyang saya sejak dulu sudah bertani, makanya saya sangat senang ketika anak saya tidak malu jadi petani meski lulusan sarjana. Malah dia juga senang bertani. Siang-malam ngerawat tanamannya,” ucapnya bangga.

Up Next

Berita Lainnya

Facebook about this post