Konferensi Pers AJM: Kami Minta Maaf Kepada Rakyat Jember

ALFIKR.CO, JEMBER- Menyikapi Aksi Massa Cabut UU Cipta Kerja pada Kamis, 22 oktober 2020, beberapa elemen masyarakat sipil yang tergabung dalam Aliansi Jember Menggugat (AJM) menggelar Konferensi Pers, Senin (26/10/2020) yang bertempat di Bolak-Balik FoodStation Jl. Semeru, Sumbersari, Jember.

Dalam Konfrensi Pers tersebut, Nurul Mahmuda, Koordinator Lapangan (Korlap) menjelaskan, adanya oknum di tengah-tengah massa aksi pada 22 Oktober 2020 lalu menjadi penyebab adanya hal-hal yang tidak diinginkan, yaitu kerusuhan.

“Dalam evaluasi kami. Ternyata banyak celah, dan tragedi, yang menyebabkan tindakan kerusuhan. Salah satunya kejadian sabotase berupa penyiraman pada mixer, yang menyebabkan matinya sound sytem Mobil Komando (Mokom) sebagai alat komunikasi. Kejadian tersebut sekitar jam 16.00 WIB,” jelasnya.

Kejadian tersebut, memancing amarah massa aksi. Namun, Ia melanjutkan, beberapa penanggungjawab dan Korlap melakukan tindakan persuasif guna meredam emosi massa aksi.

“Kami telah berupaya untuk meredam, tetapi kemarahan massa aksi justru semakin memuncak ketika terjadi penangkapan oleh pihak aparat keamanan. Kami tidak tahu apa motif dari penangkapan itu,” lanjut pria yang kerap disapa Mahmuda.

Penangkapan itu justru menyebabkan massa aksi tidak kondusif hingga menimbulkan keributan-keributan baru, seperti dorong-dorongan. Penanggungjawab dari elemen AJM yang melihat kejadian tersebut sigap menenangkan massa aksi yang juga dibantu oleh tim aparat keamanan untuk menjaga lingkaran massa aksi.

“Namun sangat disayangkan, tindakan brutal sangat susah untuk kita kendalikan, diluar batas kempampuan kita,” ucapnya.

Mahmuda menambahkan, ada upaya provokatif yang dilakukan oleh beberapa oknum pada aksi Kamis lalu. Menurutnya, oknum-oknum yang berupaya memprovokasi massa aksi bisa diidentifikasi dari tidak menggunakannya atribut atau tanda khusus yang telah disepakati, yaitu pita putih, yang Ia sebut kain mori.

Selain ada tanda khusus, upaya meminimalisir kericuhan, elemen AJM bersepakat, untuk menghimbau massa aksi agar tidak membawa batu, petasan, maupun barang yang membahayakan orang lain.

Disamping itu, Ia menegaskan bahwa aksi yang dilakukan oleh AJM adalah aksi damai dan tidak menghendaki kericuhan, “hal itu (baca: Kericuhan) diluar kontrol kami dan sangat disayangkan,” tegasnya.

Adanya tindakan-tindakan tersebut yang kemudian menyebabkan kericuhan, Mahmuda selaku perwakilan dari AJM, secara sadar meminta maaf kepada semua pihak yang merasa dirugikan, seperti kawan-kawan Jurnalis, pihak Kepolisian Republik Indonesia, Pemerintah Daerah Kabupaten Jember, dan DPRD Jember.

“Terutama masyarakat Jember, kami memohon maaf atas tindakan-tindakan diluar koridor rencana aksi sehingga menyebabkan kerugian banyak pihak,” sesalnya di akhir Konferensi Pers.

Up Next

Berita Lainnya

Facebook about this post