Nenegger dan Mamajir, Simbol Kehidupan Petani Kangean

lelee......lelee......lelee.....leeeeee...”

ALFIKR.CO, KANGEAN- Begitulah gemuruh masyarakat Kangean saat sedang menyaksikan pegelaran kerapan kerbau. Mereka tampak asyik dan larut dalam gegap gempita menyaksikan hiasan kerbau yang dikejar melalui penuggang kuda. Pemandangan semacam ini dapat kita saksikan dalam pagelaran kerapan kerbau tepatnya di Desa Angkatan, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep.

Kerapan kerbau, ada yang menyebut mamajir dan ada pula yang menyebut nenegger. Namun, pada intinya kudua sama yakni pagelaran lomba adu lari kerbau. Perbedaan keduanya, terletak pada pelaksanaannya. Nenegger misalnya, dilaksanakan setelah menanam padi. Sambil menunggu musim panin, masyarakat kangean mengadakan hiburan neneggeran. Sedangkan mamajir, pelaksanaannya menjelang menanam padi yakni sambil membajak sawah yang hendak ditanami padi di pagi hari.

Sebenarnya banyak versi tentang pelaksanaan pagelaran keraban kerbau. Tergantung daerah mana yang melaksanakan. Ada yang dilaksanakan setelah panen ba’da ashar, dan ada juga yang melaksanakannya setelah musim tanam padi selesai. Pelaksanaannya pun sama yakni ba’da ashar sampai menjelang magrib.

Keduanaya, memiliki makna filosofi yang berbeda pula. Misalnya, tradisi nenegger yang dilaksanakan setelah musim panen, sebagai wudud syukur atas hasil panin yang melimpah. Sedengkan yang dilaksanakan setelah musim tanam padi, agar tanaman pada selamat dari hama dan penyakit nanam lainnya.

Hal itu dikarenakan dimana umumnya para petani pulau Kangean dalam menanam padi menggunakan kerbau dalam membajak sawah. Disamping tolak balak tradisi nenegger  atau teggeran juga menjadi hiburan bagi para petani baik setelah musim tanam maupun setelah musim panen.

Menurut bapak Musahur, sesepuh masyrakat Kangean, tradisi nenegger dilakukan pada waktu selesai tanam padi. Biasanya ia dilaksanakan setelah umur padi mencapai satu atau dua bulan dimana ternak-ternak sedang istirahat. Sambil menunggu musim panen para petani di pulau Kangean mengadakan adu lomba lari kerbau yang selanjutnya di sebut  nenegger.

Dengan begitu, tradisi nenegger atau teggeran, selain itu digelar sebagai hiburan masyarakat, juga merupakan bentuk ucapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah dan dengan harapan di jauhkan dari marabahaya. “Tumbuh sejak dari nenek moyang mesyarakat Kengean, tradisi ini masih bertahan hingga sekarang”, jelasnya Bapak Musahur.

Syahdan di wilayah Kecamatan Arjasan dan sekitarnya banyak hewan ternak mati, macam-macam penyakit menimpa warga dan panen gagal. Oleh tertua desa setempat menyarankan masyrakat menggelar teggeran mengingatkan kerbau sangat membantu dalam proses menggarap sawah.

Sejak itu terciptalah tradisi nenegger atau teggeran menjadi tradisi yang sangat digandrungkan oleh masyrakat Kengean terutama para muda mudinnya. Berbeda dengan kerapan sapi di Madura, tradisi nenegger dan teggeran dimaksudkan supaya roh halus, penyakit dan marabahaya lain yang melanda daerah setempat musnah melalui setia pacutan pada kerbau.

Kiai Nurul Huda Pondok Pesantren Alhidayah Arjasa, nenegger atau teggeran ialah tradisi mengadu cepat sepasang kerbau tanpa penunggang atau joki. Dengan menggang kuda, joki mengejar kerbau untuk dipecut. Sebelum kerbau turun gelanggang, biasanya peserta memilih kerbau jantan berkualitas tinggi, lalu dihias demi mendapatkan harga tawar tinggi.

Neneger atau teggeran berbeda dengan kerapan sapi. Para joki  nenegger atau teggeran menunggang kuda membututi sambil memecat kerbau yang sedang dipacu. Sedangakan para joki kerapan sapai langsung menunggang diatasnya. Dan setiap pengunjung nenegger atau teggeran diperbolehkan memecut kerbau dari jarakdekat. “Alat pemukulnya terbuat dari kayu yang berukuran 5 Cm dengan panjang 1 meter,” jelas Kiai yang akrab disapa kiai Nung ini.

Setelah sampai digaris finish, pemilik kerbau nangdheng (berjoget) dengan iringan musik gendheng dhumik (musik tradisional saronen). Mereka bersyukur dan senang, walaupun bermandikan lumpur. Teggeran, ini tidak memperebutkan hadiah, melainkan mencari kerbau mana yang paling gesit. Disini bisa dilihat bahwa kerbau yang menjadi pemenang berarti rajin membajak sawah.

Sementara itu, bapak Muarif salah satu tokoh masyarakat Kangean mengatakna bahwa tradisi neneger merupakan identitas masyarakat Kangean yang mayoritas memelihara kerbau. Memiliki puluhan kerbau, bagi masyarakat Kangean tergolong sebagai orang kaya.

“Tradisi teggeran menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat Kangean setelah musim panen. Pagelarannya juga menjadi media silaturrahim karena pengunjungnya yang hadir berasal dari pelbagai desa,” mantan anggota DPRD Sumenep ini pada ALFIKR.

Dengan kebersamaan ini eksistensi tradisi nenegger atau teggeran akan tetap terawat. Sebab kelestarian budaya lokal sangat bergantung kepada semangat kebersamaan untuk menjaga dan menguatkan keyakinan terhadap tradisi-tradisi peningalan nenek moyang.

Oleh karena itu teggeran merupakan budaya tradional yang bertahan dan eksis ditengah ruh modernisasi ini. Di samping tradisi ini mempunyai daya tarik dan digandrungi oleh masyarakat Kangean baik yang muda maupun yang tua, ia juga menjadi simbol kehidupan petani di pulau yang terkenal dengan sebutan pulau Cukir.

Meskipun tidak mendapat perhatian pemerintah, baik secara formal maupun informal, bagaimanapun juga tradisi yang digelar satu kali dalam setahun yakni pada musim panen, ini diperukan upayakan semua pihak, baik pemerintah, masyarakat maupun pemuda untuk sama-sama melestarikan tradisi neneggeran atau teggeran.

Sumber: Majalah ALFIKR Edisi 29, Nopember-April 2017

Up Next

Berita Lainnya

Facebook about this post